WISATABLOID.com – CEO Harli Yanto menyebut transformasi teknologi di industri hospitality telah mencapai tahap lanjut, namun belum sepenuhnya terintegrasi dan otomatis, dalam forum HAM Meet CEO di Arion Suite Hotel Kemang, Jakarta, Jum’at, (13/3/2026).
Industri perhotelan Indonesia terus bergerak menuju digitalisasi yang lebih matang. Namun, menurut Harli Yanto, tingkat adopsi teknologi saat ini baru berada di level 3 hingga 4 dan belum mencapai tahap integrasi penuh atau level 5.
Pada fase awal, teknologi difokuskan untuk mempercepat layanan. Kini, tantangan bergeser pada bagaimana layanan dapat diukur dan direspons secara real-time. Tanpa sistem terintegrasi, permintaan tamu berpotensi terabaikan hingga berjam-jam.
Ia menegaskan, inovasi teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi. Sistem modern memungkinkan pemantauan permintaan tamu secara langsung, bahkan terhubung dengan perangkat di dalam kamar seperti televisi.
Perubahan juga terjadi pada infrastruktur teknologi. Hotel mulai beralih dari server lokal ke sistem berbasis cloud seperti Amazon Web Services, Google Cloud, dan Microsoft Azure. Model ini dinilai lebih efisien karena tidak memerlukan investasi perangkat keras, serta menawarkan keamanan yang lebih mutakhir dan fleksibilitas operasional.
Sebaliknya, penggunaan server lokal kerap menghadapi kendala pembaruan sistem keamanan yang tidak konsisten, sehingga meningkatkan risiko gangguan operasional.
Dalam praktiknya, sistem IT hotel mencakup berbagai modul penting seperti front office, housekeeping, point of sales, hingga back office. Integrasi dengan platform digital seperti online booking dan channel manager kini menjadi kebutuhan utama untuk meningkatkan okupansi dan daya saing.
Menjawab kebutuhan tersebut, Power Pro menghadirkan solusi berbasis langganan yang memungkinkan hotel berbagai skala mengakses teknologi tanpa beban investasi besar di awal.
Harli menekankan, masa depan industri hospitality sangat ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan pelayanan. Tanpa sistem yang terukur dan responsif, ekspektasi konsumen modern sulit dipenuhi.[]

















