WISATABLOID.com – CEO Thomas Matantu menilai industri hospitality di Yogyakarta menghadapi tekanan akibat lonjakan jumlah hotel yang tidak seimbang dengan pertumbuhan wisatawan, lemahnya promosi pemerintah, serta maraknya vila dan homestay, dalam forum HAM Meet CEO di Arion Suite Hotel Kemang, Jakarta.
Industri perhotelan di Yogyakarta mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan jumlah hotel tidak diikuti dengan pertumbuhan pasar yang sehat, sehingga memicu persaingan yang semakin ketat.
Menurut Thomas Matantu, kondisi ini diperparah oleh kurangnya peran proaktif pemerintah dalam promosi pariwisata. Promosi dinilai masih bersifat mengikuti, bukan memimpin, sehingga pelaku industri harus lebih dulu menggerakkan pasar.
Dari sisi regulasi, proses perizinan yang lambat turut menjadi kendala. Selain itu, penurunan signifikan kegiatan pemerintah berdampak langsung pada tingkat hunian hotel.
Jika sebelumnya kontribusi kegiatan pemerintah mencapai 40–60 persen, kini hanya sekitar 10 persen akibat efisiensi anggaran.
Penurunan ini terutama memukul okupansi weekday yang sebelumnya bergantung pada agenda pemerintahan dan korporasi.
Dalam tiga tahun terakhir, tingkat hunian hotel tercatat turun hingga 30 persen, bahkan mencapai 40 persen pada periode puncak seperti Idul Fitri dan libur akhir tahun.
Perubahan perilaku wisatawan juga menjadi faktor penting. Wisatawan kini cenderung memilih vila dan homestay yang menawarkan fleksibilitas dan nilai ekonomis lebih baik, terutama untuk perjalanan kelompok.
Dengan harga setara, wisatawan dapat menyewa satu unit rumah dibandingkan beberapa kamar hotel.
Di sisi lain, harga hotel di Yogyakarta cenderung meningkat saat peak season, bahkan bisa naik hingga dua kali lipat. Sistem harga dinamis berbasis algoritma pada platform digital turut mempercepat pergeseran preferensi ini.
Fenomena lain adalah maraknya pembangunan vila dan homestay oleh investor luar daerah tanpa perizinan optimal. Pelaku industri bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia telah mendorong penertiban, namun implementasi di lapangan dinilai belum efektif.
Menghadapi tekanan tersebut, Natta Hospitality Management mengusung strategi berbasis pengalaman untuk meningkatkan daya tarik hotel di tengah persaingan.[]

















