Scroll untuk baca artikel
Ekraf

Wamen Ekraf Bahas Kolaborasi Ekosistem AI dengan V2 Indonesia

13
×

Wamen Ekraf Bahas Kolaborasi Ekosistem AI dengan V2 Indonesia

Share this article

WISATABLOID.com – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong penguatan subsektor prioritas yang berdampak langsung terhadap perekonomian nasional.

Salah satunya melalui penjajakan kolaborasi dengan perusahaan teknologi, V2 Indonesia, dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar menegaskan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi. Namun, peningkatan kualitas talenta menjadi kunci agar mampu bersaing di tingkat global.

“Tantangan saat ini adalah memperkuat kualitas talenta dengan menarik mereka melalui pelatihan dan memastikan mereka mampu bersaing secara global, khususnya dalam penguasaan teknologi baru seperti AI (kecerdasan artifisial) dan game engine,” ungkap Wamen Ekraf saat bertemu dengan jajaran V2 Indonesia di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (6/5).

Irene Umar juga menyampaikan, pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pertumbuhan industri kreatif digital. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi dengan pejuang industri kreatif seperti V2 Indonesia untuk membuka akses dan menciptakan ekosistem yang mampu menyerap talenta kreatif secara optimal,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, V2 Indonesia memaparkan tiga inisiatif strategis yang tengah disiapkan, yakni Unreal Engine Academy, virtual IP karakter berbasis AI, serta platform edukasi yang memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk personalisasi pembelajaran.

Semua upaya ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas talenta kreatif nasional dalam bidang produksi konten digital berbasis teknologi.CEO V2 Indonesia, Rudi Hidayat menyampaikan, inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat  kapasitas talenta kreatif nasional, khususnya di sektor film, konten digital dan periklanan.

“Negara-negara lain sudah berkembang dalam hal teknologi konten, multimedia, dan segala perangkat digital lain. Maka, kami ingin membangun Unreal Engine Academy di Indonesia supaya talenta-talenta untuk subsektor perfilman, konten digital, serta iklan bisa lebih siap mengerjakan teknologi yang relevan dengan generasinya.

Kami juga ingin mengembangkan IP karakter berbasis edukasi seperti Zeno. Selain itu, ada platform Class+ based on learning system yang menggunakan AI sebagai cara belajar sesuai zamannya,” ujarnya.

Rudi menambahkan, hingga kini masih terbatas jumlah talenta yang menguasai teknologi unreal engine di Indonesia, sehingga diperlukan ekosistem pembelajaran yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dengan demikian dapat menciptakan sumber daya manusia unggul yang mampu memproduksi konten digital berkualitas untuk subsektor film, animasi, hingga immersive experience.

“Saat ini, ada istilah agentic AI or agentic as a service. Ini menjadi suatu hal yang harus dipersiapkan Indonesia bagaimana AI mampu memberikan solusi. Bukan hanya kita yang menanyakan ke sebuah sistem AI, tetapi seharusnya AI yang memberikan kita solusi apa yang sedang dikerjakan atau apa yang mau kita kerjakan. Hari ini, kita juga mendapat banyak insight dari Wamen Ekraf sehingga akan dicoba kembangkan advice yang sudah diberikan tadi,” tutupnya.

Dalam audiensi ini, Wamen Ekraf didampingi Direktur Aplikasi Kementerian Ekraf, Tri Wahyudi.[]

Example 120x600