WISATABLOID.com – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 2026 bukan sekadar perhelatan seni dan budaya, melainkan penggerak ekonomi masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi berbagai sektor usaha di Papua Pegunungan.
“Seni dan pariwisata adalah penggerak utama yang menciptakan perputaran ekonomi yang luar biasa. Dampaknya dirasakan tidak hanya oleh pemerintah dan masyarakat, tetapi juga pelaku seni budaya, pelaku UMKM, penyedia akomodasi, transportasi, hingga usaha makanan dan minuman,” kata Wamenpar Ni Luh saat membuka Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Jumat (7/8).
Festival Budaya Lembah Baliem 2026 yang berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 kembali masuk dalam jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, menegaskan posisinya sebagai salah satu festival budaya unggulan Indonesia yang mampu memperkuat daya saing pariwisata nasional.

Wamenpar mengatakan Lembah Baliem memiliki kekayaan alam dan budaya yang saling melengkapi. Tradisi yang tetap terjaga dalam kehidupan masyarakat menjadi modal penting untuk menghadirkan pengalaman wisata yang autentik sekaligus memperkuat identitas budaya Papua Pegunungan.
Menurutnya, Festival Budaya Lembah Baliem menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya tersebut kepada dunia. Salah satu atraksi yang paling dikenal adalah simulasi perang antarsuku yang kini tidak lagi dimaknai sebagai simbol konflik, melainkan sebagai representasi persaudaraan, persatuan, dan semangat menjaga perdamaian.
“Keberanian sejati bukan diukur dari kemampuan mengalahkan sesama, tetapi dari kebijaksanaan menjaga kedamaian dan ketenangan tanpa kehilangan jati diri,” kata Wamenpar.

Pada kesempatan itu, Wamenpar juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Papua Pegunungan melalui kolaborasi lintas sektor.
Menanggapi aspirasi masyarakat terkait penguatan sanggar-sanggar seni budaya di Jayawijaya, Kementerian Pariwisata akan berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi guna memperkuat ekosistem seni budaya sebagai bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat.
“Kami menerima amanat dari masyarakat mengenai perhatian terhadap sanggar-sanggar seni budaya di Jayawijaya. Bersama Kementerian Koperasi, kami berkomitmen berkolaborasi agar sanggar-sanggar tersebut terus berkembang, mampu mempertahankan tradisi, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Wamenpar.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung penyelenggaraan Festival Budaya Lembah Baliem agar semakin banyak generasi muda yang terdorong melestarikan adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Wamenpar, pelestarian budaya yang berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata akan memperkuat daya tarik Papua Pegunungan sebagai destinasi unggulan sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara.
“Mudah-mudahan festival ini terus berkembang, semakin berkualitas, dan mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke Papua Pegunungan,” ujarnya.
Turut hadir dalam pembukaan FBLB 2026 Menteri Koperasi Ferry Juliantono. Ia menyampaikan kesiapan Kementerian Koperasi untuk memperkuat pemberdayaan pelaku seni melalui pengembangan ekonomi berbasis koperasi.
Menurut Ferry, pendampingan terhadap sanggar-sanggar seni budaya diharapkan dapat memperluas partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan FBLB pada tahun mendatang sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara hingga dua kali lipat.
“Selain itu, produk-produk unggulan seperti Kopi Wamena dan berbagai komoditas potensial lainnya juga akan kami kembangkan melalui penguatan skala ekonomi koperasi sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” ujar Ferry.
Sementara itu, Bupati Jayawijaya Athenius Murip mengatakan Festival Budaya Lembah Baliem merupakan momentum penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat Papua Pegunungan sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada dunia.Ia menjelaskan lokasi penyelenggaraan festival terus bergilir agar manfaat ekonomi dan promosi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di berbagai wilayah.
“Tahun ini festival diselenggarakan di Distrik Walesi setelah sebelumnya di Distrik Usilimo. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Jayawijaya bukan hanya kaya akan budaya, tetapi juga memiliki potensi pariwisata yang luar biasa,” kata Athenius.Turut mendampingi Wamenpar Ni Luh dalam kegiatan tersebut Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata Raden Wisnu Sindhutrisno. Hadir pula Wakil Bupati Jayapura Ronny Elopere.

















