Scroll untuk baca artikel
Pariwisata

Industri Pariwisata Hadapi Tantangan, Wisatawan Mulai Tekan Anggaran

26
×

Industri Pariwisata Hadapi Tantangan, Wisatawan Mulai Tekan Anggaran

Share this article

WISATABLOID.com – Industri pariwisata pada tahun ini masih menghadapi tantangan akibat ketidakpastian geopolitik global dan kondisi ekonomi, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang memengaruhi daya beli masyarakat.

Meski demikian, pelaku industri pariwisata tetap optimistis. Ketua Umum Astindo, Pauline Suharno, menyatakan, travel sentiment masih berada dalam kondisi yang sehat. Minat masyarakat untuk bepergian tetap tinggi, termasuk wisatawan mancanegara (wisman) yang ingin berkunjung ke Indonesia. Namun, sebagian wisatawan memilih menunda perjalanan karena mempertimbangkan situasi ekonomi.

“Travel sentiment masih healthy. Minat berwisata masih tinggi, termasuk ke Indonesia. Hanya saja, banyak yang akhirnya menunda perjalanan karena kondisi ekonomi dan ketidakpastian yang terjadi saat ini,” ujar Pauline dalam Seminar Internasional bertajuk “Prospects of the Tourism Industry Amid Economic Challenges” yang diselenggarakan Program Doktor Ilmu Komunikasi Angkatan Ke-35 (DIK-35), Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Dia menjelaskan, kelompok masyarakat menengah ke atas masih menjadi segmen yang aktif melakukan perjalanan. Namun, mereka mulai menyesuaikan anggaran. Pauline menyontohkan, wisatawan yang sebelumnya terbiasa naik pesawat kelas bisnis kini beralih ke kelas ekonomi, begitupun pilihan akomodasi bergeser dari hotel bintang lima ke hotel bintang empat.

Menurut Pauline, perubahan perilaku konsumen juga menjadi tantangan bagi pelaku industri. Generasi Z atau Gen Z kini menjadi salah satu penggerak pasar wisata, tetapi memiliki karakter yang cepat bosan dan selalu mencari pengalaman baru.

“Gen Z tidak mudah puas dengan sesuatu yang begitu-begitu saja. Tantangannya adalah bagaimana pelaku industri mampu menciptakan event, atraksi, dan pengalaman yang benar-benar menarik perhatian mereka,” tuturnya.

Pauline menambahkan, tren perjalanan saat ini juga menunjukkan meningkatnya minat terhadap wisata budaya, wellness, pengalaman autentik, perjalanan lintas generasi, serta konsep slow and sustainable travel. Di sisi lain, media sosial dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin memengaruhi cara wisatawan memilih destinasi dan menyusun rencana perjalanan.

Untuk itu, dia mendorong pelaku industri menghadirkan paket wisata yang menawarkan pengalaman unik, memperkuat penerapan pariwisata berkelanjutan, meningkatkan pemanfaatan teknologi tanpa menghilangkan sentuhan layanan manusia, serta memberikan fleksibilitas dalam pemesanan perjalanan.

Di pasar domestik, Bali, Yogyakarta, dan Medan masih menjadi destinasi favorit wisatawan Indonesia. Sementara untuk perjalanan ke luar negeri, China, Jepang, Singapura, dan Malaysia tetap menjadi tujuan yang paling diminati.

Lebih lanjut Pauline menuturkan, pemulihan sektor pariwisata hanya dapat dipercepat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, penguatan konektivitas regional, serta pengembangan produk wisata yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan yang terus berubah.

Pada kesempatan yang sama, Penasihat Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT), Zainudin Maliki, menyampaikan ihwal program desa wisata yang dijalankan Kementerian Pariwisata berpotensi besar menjadi motor penggerak ekonomi perdesaan.

Kementerian Desa dan PDTT pun menjadikan pengembangan desa wisata sebagai salah satu pilar utama pembangunan desa dan pemerataan ekonomi.

Keberhasilan pengembangan desa wisata, kata dia, terlihat di sejumlah daerah yang mampu membukukan pendapatan miliaran dan meningkatkan kesejahteraan warga setempat.

“Contohnya Desa Ponggok di Klaten yang menghasilkan hingga Rp12 miliar dari pengelolaan wisata air. Ada juga Desa Stigi di Gresik yang membukukan keuntungan Rp4,5 miliar pada 2020 dari reklamasi tambang kapur,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Prasetya Yoga Santoso, mengatakan, pariwisata tidak hanya berbicara mengenai destinasi wisata atau aktivitas ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan nilai bersama bagi masyarakat.

“Komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk menyelaraskan kepentingan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional agar setiap kebijakan dan kolaborasi yang dibangun mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pariwisata Indonesia,” ucapnya.

Ketua Panitia Seminar Internasional DIK-35 Universitas Sahid, Dyah Hestu Lestari menambahkan, seminar internasional pariwisata digelar sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari pemerintah, pelaku industri, asosiasi, akademisi, hingga mitra internasional.

“Kami berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi yang implementatif sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi baru untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri pariwisata Indonesia,” ungkapnya.

Turut hadir dalam seminar tersebut Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati, Direktur Utama Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Ahmad Fajar, serta General Manager Hotel Grand Sahid Jaya Herman Courbois.[]