WISATABLOID.com — Lahir di 1962, Arti Gidwani adalah seorang seniman dengan spesialisasi pada keramik dan tembikar yang disegani di Jakarta dan New Delhi. Kesukaannya pada keramik dan tembikar dimulai ketika dia menimba ilmu pada seorang ahli tembikar di Singapura antara 1997 dan 2001. Setelah memoles keahliannya membuat tembikar di negara tetangga, dia kemudian bekerja selama tiga tahun dengan pekerja tembikar di Jakarta pada 2003.
Setelah itu, Arti melanglang buana ke seluruh dunia untuk mengikuti loka karya pembuatan keramik dan tembikar hingga akhirnya membuka studionya sendiri pada 2005 hingga sekarang.Â
Arti kerap mendapatkan ide untuk karya-karyanya dari kehidupan sehari-hari di sekitar dia. Dalam membuat karyanya, dia menggunakan teknik tradisional. “Saya membuat karya-karya saya memakai teknik tradisional yang biasa digunakan di India dan Indonesia selama ribuan tahun,†ujarnya. Dalam menghasilkan maha karyanya, Arti biasanya menggunakan barang pecah belah dan terakota di mana mayoritas merupakan buatan tangan dan memiliki warna memikat.

Arti menyukai tembikar yang memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari, oleh karena itu di dalam karya-karyanya dia kerap menyelipkan humor serta perayaan mengenai hidup. Dia percaya bahwa sebuah tanah liat dapat dicetak menjadi beragam bentuk dan bercerita melalui bentuk- bentuk tersebut.
Dalam lingkup lingkungan kerjanya sebagai seniman tembikar, Arti telah bertemu dengan beragam seniman tembikar dari seluruh dunia. Beberapa nama meninggalkan kesan mendalam dan kerap memengaruhi gaya seninya, terutama seniman seperti Keith Haring, Yayoi Kusama, dan Jean-Michel Basquiat. Warna-warna, goresan garis, tema isu sosial, pemikiran out-of-the-box, serta peleburan isu politik dan ketidakadilan yang digunakan para seniman tersebut dalam karya- karyanya kerap menginspirasi Arti untuk terus berkarya.
Dalam dua dekade terakhir, karya-karya Arti telah ditampilkan dalam pameran tunggal maupun kelompok serta sejumlah peragaan busana. Ajang-ajang tersebut di antaranya Rang Barse I and II (2006, 2008, Jakarta); Ceramic Expressions (2009, Ita’s Gallery, Jakarta); Lens and Clay (2010, Koi Gallery, Jakarta); Clay with Silvery Lining (2012, Indigo Blue Art Gallery, Singapore); A Touch of Silver and Clay (2012, Alun Alun, Grand Indonesia, Jakarta); This World Askew (2014, Artotel, Jakarta); Fashion Show – Rustic Attic: The Birth of Cool (2012, Jakarta); Perceptions (2015, Koi Gallery, Jakarta); Jakarta Art Bazaar(2017); Fashion Show – Celestial (2018, Jakarta), and In Conversation – A Potter and a Painter (2017, Ciputra Artpreneur, Jakarta).
Selain pameran dan peragaan busana, karya-karyanya juga telah ditampilkan di sejumlah majalah dan jurnal serta dapat ditemukan di tangan para kolektor serta ruang publik di Jakarta dan dunia.
Pada 22-27 April 2022, Arti akan memamerkan koleksi karya seni terbarunya bertajuk Hope is Not Cancelled di CAN’S GALLERY, Jakarta yang berlokasi di Jalan Tanah Abang II no.25, Jakarta Pusat. Karya terbarunya ini terinspirasi dari pandemi global yang menghantam dunia pada awal 2020. “Ketika krisis datang, manusia beralih ke beragam medium untuk menyalurkan pengalaman mereka,†tutur Arti tentang inspirasi karya terbarunya.
Karya-karya dalam Hope is Not Cancelled ini merefleksikan perjalanan emosional Arti selama dua tahun ke belakang. “Ini merupakan cara saya untuk berdamai dengan kesulitan, cara menemukan kekuatan, dan serta menyalurkan emosi dan medium untuk memahami dan berkontemplasi di masa-masa yang sulit ini,†pungkasnya.
Pameran tunggal Hope is Not Cancelled akan memamerkan karya-karya terbaru Arti yang dipenuhi semangat positif, harapan, humor, afirmasi, energi, kegembiraan, dan lainnya, “Saya ingin kita semua tahu dan percaya bahwa kita bersama-sama di masa sulit ini, dan kita tidak sendirian.â€
Pameran tunggal Arti Gidwani Hope is Not Cancelled terbuka untuk umum dari pukul 10 hingga 17 WIB.

















