Scroll untuk baca artikel
News

Experience Tourism Jadi Peluang Baru Pariwisata Indonesia

18
×

Experience Tourism Jadi Peluang Baru Pariwisata Indonesia

Share this article

WISATABLOID.com – Tren pariwisata terus berubah. Wisatawan kini tak lagi sekadar mencari destinasi untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna.

Peluang tersebut menjadi pembahasan dalam Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027 yang digelar Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Mengusung tema “Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism”, agenda tersebut sekaligus menjadi rangkaian menyambut Hari Pariwisata Internasional yang diperingati setiap 27 September.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa. Dalam sambutannya, dia mengatakan wisatawan saat ini tidak lagi berwisata hanya untuk mengunjungi sebuah destinasi.

Wisatawan, khususnya kalangan milenial dan Gen Z, semakin mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna. Bahkan, 52 persen di antaranya disebut bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata yang berkualitas.

Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi industri pariwisata Indonesia untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan. Dampaknya diharapkan dapat memperpanjang masa tinggal sekaligus meningkatkan belanja wisatawan.

Untuk menjawab tren tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meningkatkan kualitas wisata pengalaman dengan memanfaatkan dua dari enam tren wisata global, yakni MICE dan bleisure, perpaduan perjalanan business and leisure.

Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 ASEAN.Tren bleisure juga semakin berkembang seiring meningkatnya aktivitas MICE.

Wisatawan yang datang untuk menghadiri sebuah event tidak hanya mengikuti kegiatan utama, tetapi juga memiliki kesempatan menikmati berbagai daya tarik wisata di daerah tersebut.

“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Pengalaman tersebut harus mampu memperkuat destinasi, menggerakkan ekonomi lokal, dan juga meningkatkan daya saing Indonesia di panggung MICE dunia. Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi juga pengalaman di dalamnya,” kata Ni Luh Puspa.

Ekosistem Pariwisata Jadi Tantangan

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam membangun ekosistem pariwisata yang terintegrasi. Hal tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari penyedia atraksi wisata, hotel hingga kuliner.

Kondisi itu menjadi penting karena kualitas pengalaman wisatawan tidak hanya ditentukan oleh satu komponen, melainkan keterhubungan berbagai sektor dalam sebuah destinasi.

Sebagai gambaran, dampak penyelenggaraan event juga dapat dirasakan oleh pelaku ekonomi lokal. Berdasarkan data Kemenpar, program Event by Indonesia sepanjang 2025 mendatangkan 12,2 juta pengunjung.

Program tersebut juga menggerakkan 20.887 UMKM dengan 257.561 tenaga kerja yang terlibat, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.

Gastronomy, Wellness dan Marine Tourism

Dalam acara yang sama, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan, wisata pengalaman menjadi masa depan pengembangan pariwisata Indonesia sebagai upaya menciptakan wisata berkualitas tinggi.

Menurut dia, terdapat tiga komponen utama dalam membangun experience tourism, yakni menghargai budaya, alam, dan koneksi antar-manusia. “Tanpa ketiganya, wisata pengalaman tidak akan berkualitas,” tukasnya.

Kemenpar sejak tahun lalu telah mengembangkan tiga program flagship sebagai tulang punggung wisata pengalaman di Indonesia. Ketiganya yakni gastronomy, wellness, dan marine tourism.Ke depan, Kemenpar juga akan menambahkan dua program lain, yakni wisata wastra serta wisata seni budaya.

“Pemerintah bisa mengarahkan dan membuat tren sehingga bukan lagi ke tempat itu-itu saja. Ingat, mass tourism. Ini sesuatu yang kita takutkan terjadi, kita tidak mau,” kata Ni Made.

Pariwisata Berkualitas Butuh Perencanaan

Dari sisi pelaku usaha, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani menekankan pentingnya perencanaan dan pelaksanaan program pariwisata yang berkelanjutan.

Menurut dia, pendekatan yang dikedepankan pemerintah semestinya bukan sekadar proyek, tetapi program yang dapat berkesinambungan dari masa ke masa.

“Sesungguhnya, pariwisata yang berkualitas itu dapat direncanakan dengan melihat aspek-aspek, seperti pendalaman potensi di wilayah itu, regulasi yang kondusif, insentif investasi, serta aturan public-private partnership yang menarik bagi investor,” ujar Hariyadi.

Gaya Hidup Sehat Ikut Bentuk Pengalaman Wisata Sementara itu, Founder dan CEO Artotel Group Erasmus Radjimin melihat perkembangan gaya hidup sehat sebagai salah satu tren yang dapat membentuk pengalaman wisatawan.

Menurut dia, kebutuhan wisatawan terhadap fasilitas yang mendukung gaya hidup sehat semakin berkembang. Salah satunya terlihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan perangkat untuk memantau kualitas tidur.

“Orang zaman sekarang sudah menggunakan health tracker. Mereka mengecek sleeping score-nya berapa. Itu yang kita coba improve terus,” kata Eri, sapaan akrabnya.

Artotel Group juga akan meluncurkan Wanderlust Recovery Center berupa fasilitas gym untuk menjawab kebutuhan tamu yang menjalankan gaya hidup aktif. “Karena gaya hidup ke depannya, 1 dari 3 traveller itu akan membutuhkan gym,” ujarnya.

ITMO Digelar untuk Kesembilan Kalinya

ITMO 2027 terselenggara berkat dukungan berbagai pihak, yakni Kementerian Pariwisata, Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, Injourney, Injourney Hospitality, Kokola, Indofood, dan Yoga dihotel.

Ketua Forwaparekraf Tiara Maharani Kusuma mengatakan, penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum khusus karena bertepatan dengan peringatan Hari Pariwisata Internasional sekaligus menjadi penanda sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook.

“Event ini terasa sedikit spesial, selain menggabungkan untuk merayakan hari pariwisata dunia, ini juga menjadi momen kami untuk merayakan sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook,” kata Tiara.