Scroll untuk baca artikel
News

‘Ngoprek’ Forwarparekraf Bahas Algoritma Terkini Wisatawan Indonesia

14
×

‘Ngoprek’ Forwarparekraf Bahas Algoritma Terkini Wisatawan Indonesia

Share this article

WISATABLOID.com – Saat wisatawan mencari destinasi di internet, pilihan yang muncul di layar mereka kini semakin dipengaruhi oleh algoritma.

Mulai dari rekomendasi di media sosial hingga hasil pencarian, teknologi perlahan mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan, hingga memilih tempat untuk berwisata.

Di tengah perubahan tersebut, industri pariwisata tidak lagi hanya berbicara soal promosi atau keindahan destinasi. Yang semakin penting adalah bagaimana membangun cerita, kedekatan, dan kepercayaan di ruang digital.

Untuk merespon perubahan perilaku wisatawan global, Kementerian Pariwisata RI mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam ekosistem digital melalui peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), sebuah kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata nasional melalui teknologi yang adaptif, cerdas, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.

Platform ini dapat diakses melalui indonesia.travel dan menjadi wajah baru transformasi digital pariwisata Indonesia. MaiA juga disesuaikan dengan salah satu program utama Kementerian Pariwisata yakni Tourism 5.0 yang menekankan pentingnya adopsi digitalisasi untuk menyasar target pasar dengan lebih efektif.

Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Ni Made Ayu Marthini, dalam diskusi dengan Forum Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) yang digagas oleh Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreeatif (Forwaparekraf), Jum’at, (5/6/2026), di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Kementerian Pariwisata, di Jakarta, menyebut pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai keniscayaan dalam industri. “Ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data,” ujarnya.

MaiA dirancang untuk membantu wisatawan di setiap tahap perjalanan, mulai dari fase membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman berwisata (experiencing) hingga berbagi pengalaman (sharing).

Sebagai ekosistem, MaiA juga dapat digunakkan industri, terutama Kementerian Pariwisata untuk menjadi instrumen pengumpulan data perilaku wisatawan.

“Dalam tujuh bulan sejak peluncuran pada November 2025, kami bisa mengetahui bahwa ada sekitar 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik dan 40 persen dari mancanegara, dengan dominasi wisatawan dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman,” kata Made.

Data yang disajikan MaiA memberikan gambaran yang jauh lebih rinci dibanding metode survei konvensional. Dengan MaiA, pemerintah dapat memahami perilaku wisatawan terkini, termasuk preferensi destinasi, aktivitas, hingga preferensi pengalaman yang diinginkan wisatawan.

Algoritma dan Perebutan Perhatian Wisatawan

Perubahan tidak hanya terjadi di level pemerintah, tetapi juga pada cara informasi bekerja di ruang digital.

Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, masyarakat kini hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma.

Setiap aktivitas digital, mulai dari pencarian hingga interaksi media sosial, diproses untuk membentuk profil pengguna. “Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka,” kata Apni dalam diskusi Ngoprek.

Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan tidak lagi sepenuhnya “memilih”, tetapi diarahkan oleh sistem rekomendasi yang dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.

“Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital,” lanjut Apni

Karena itu, tantangan komunikasi pariwisata saat ini bukan hanya soal menciptakan konten yang menarik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kepercayaan di tengah banjir informasi.

Apni menyebut, ketika informasi tersedia dalam jumlah nyaris tak terbatas, publik tidak hanya mencari rekomendasi, tetapi juga sumber yang dapat dipercaya. Di sinilah manusia kembali menjadi faktor penentu. Kecerdasan buatan mampu mengumpulkan data, memproses informasi, dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia.

“Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya,” tegas Apni.

Narasi, Bukan Sekadar Teknologi

Di tengah dominasi algoritma, Brand Strategist & Founder Konner Advisory Silih Agung Wasesa menilai bahwa teknologi tidak akan pernah cukup tanpa narasi yang kuat.

Ia mencontohkan keberhasilan Malaysia dalam wisata kesehatan yang berhasil menarik wisatawan Indonesia bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena mereka memahami kecemasan mendasar pasien: ketidakjelasan biaya dan pengalaman layanan.

“Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Untuk itu kekuatan narasi, terutama experience storytelling sangat diperlukan untuk mengangkat citra destinasi di era AI,” ujarnya.

Dalam ekosistem marketing pemasaran digital, kekuatan narasi tersebut tidak lagi digaungkan melalui google ads ataupun mega influencers. “Justru sekarang yang paling efektif sekarang itu suara Pejuang Keadilan Sosial (SJW) dan nano influencers. Kenapa? Karena mereka dianggap relevan dengan kehidupan keseharian netizen,” kata Silih.

Dari sisi industri, teknologi AI juga mulai mengubah cara operasional hotel bekerja.
COO ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkerego, menyebut industri kini tidak lagi hanya bersaing di ranah layanan, tetapi juga di ranah data dan algoritma.

Kecerdasan buatan memungkinkan hotel membaca perilaku tamu, memprediksi kebutuhan, hingga mengarahkan strategi pemasaran secara presisi. Namun ia menegaskan bahwa hospitality tetap membutuhkan sentuhan manusia.

“Yang membedakan industri hospitality dan pariwisata dengan industry lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia. Jadi meskipun kita bisa mengoptimasasi teknologi, tetap yang menentukan pengalaman dan rasa manusia,”

Karena itu, lanjut Eduard, masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada seberapa kuat manusia mampu mengendalikan narasi di tengah dominasi mesin.

Tanpa itu, teknologi kecerdasan buatan hanya akan menciptakan impresi tanpa pengalaman.

“Jangan lupa, manusia makhluk sosial dan untuk merebut perhatian mereka dibutuhkan kepercayaan yang dibanngun berdasarkan pengalaman dan rasa. AI mempercepat distribusi informasi, algoritma menentukan apa yang terlihat, dan data membentuk pengalaman wisata. Namun pada akhirnya, semua itu hanya alat. Peran manusia di balik teknologi tersebut yang tidak dapat tergantikan dalam industry ini,” kata Eduard.[]