Home / Bisnis / Sembilan Media Online Terjerat Pelanggaran Hak Cipta
Djati (2)

Sembilan Media Online Terjerat Pelanggaran Hak Cipta

Djati (2)

Fotografer senior, Aryono Huboyo Djati setelah bermediasi dengan Dewan Pers semakin yakin untuk mensomasi sembilan media online atas pelanggaran hak cipta potret Tlno Saroengallo hasil karya fotografinya.

Kesembilan media online tersebut antara lain; Grid.id, Tribunnews.com, Detik.com, MetroTVnews.com, Medcom, MataMata.com, Poliklitik.com, KapanLagi.com, dan Merdeka.com.

Karya fotografi tersebut dibidik pada tahun 2016, atas permintaan Tino sendiri untuk buku yang tengah dipersiapkannya , namun baru disiarkan lewat akun lnstagram matajeli sesaat setelah kabar hembusan nafas terakhir Tino sampai ke telinga Aryono, sekita’jam 10 pada hari duka.

Kesembilan media online yang menerbitkan potret Tino karyanya sebagai ilustrasi berita kepergian Tino, nantinya akan mendapatkan tagihan yang mana pembayarannya akan diserahkan ke keluarga Tino, mengingat keluarga Tino telah menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan.

Aryono Huboyo Djati bersama kuasa hukumnya, Paulus Irawan, SH dari Law Office Pangka & Syndicate menegaskan, “kesembilan media online patut diduga telah melanggar Pasal 112 dan Pasal 113 (Ayat 2 dan 3) Undang Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, terkait pemuatan sebuah potret almarhum Tino Saroengalo dalam pemberitaan yang merupakan hasil karya Aryono Huboyo Djati dan besar harapannya tidak ada lagi pelanggaran hak cipta seperti ini”.

Penanganan atas persoalan pelanggaran hak cipta atas karya potret Aryono Huboyo Djati ini, juga mendapat dukungan dari Sutradara muda Angga Dwimas Sasongko dan musisi Vicky Sianipar serta sejumlah jurnalis.

Menurut Angga Dwimas Sasongko, sutradara film Wiro Sableng yang tengah diputar ini, persoalan pelanggaran Hak Cipta baik di dunia film, musik dan fotografi, memang sering kali terjadi. Hal tersebut lantaran law enforcementnya tidak ditegakkan secara benar. Bahkan masyarakat kerap menganggap sepele atas hak intelectual propertyrights dari seseorang kreator ini. Apalagi ditambah dengan kondisi bagaimana persoalan hukumnya baru bisa benar benar dijalankan, jika seorang yang bersangkutan tersebut baru melaporkannya dalam delik aduan.

“Jadi harus ada sesuatu yang holistik dilakukan untuk menegakkan hukum yang melindungi hak cipta seseorang. Tak hanya melindunginya secara karya yang dibuatnya, namun juga atas nilai ekonomi didalamnya, serta pengembangannya dari karya tersebut yang juga menguntungkan bagi pihak lain. Termasuk tentunya pengawasannya dalam penegakkan law enforcement itu,” jelas Dwimas Angga Sasongko.

Sedangkan bagi Vicky Sianipar, seorang musisi dan pencipta lagu, justru melihat kesan terkait pelanggaran hak cipta ini kalau dilakukan secara bersama sama, maka sesuatu yang salah itu seolah menjadi sesuatu yang benar. Padahal itu jelas jelas salah. Jadi butuh ketegasan dalam pengawasan serta penegakkan hukum dari Intelectual Property Crime yang terus terjadi itu.