Home / Destinasi / Ramainya Wisatawan Ikuti Arakan Ritual Budaya Kebo-keboan
KEBO (2)

Ramainya Wisatawan Ikuti Arakan Ritual Budaya Kebo-keboan

KEBO (2)

Keunikan budaya Indonesia sangatlah beraneka ragamnya hingga menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para wisatawan. Salah satunya adalah Ritual Budaya Kebo-Keboan di Kabupaten berjuluk Sunrise of Java, Banyuwangi tepatnya di desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh yang mampu mendatangkan ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Ritual budaya yang termasuk dalam event tahunan dari Kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini selain menarik bagi para wisatawan juga memberikan hiburan tersendiri bagi warga desa Alasmalang yang telah bersiap jauh-jauh hari dengan mempercantik jalan-jalan yang dilalui arakan dari kebo-keboan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ditengah ribuan wisatawan menjelaskan, “jumlah even di Banyuwangi tahun 2018 ada sebanyak 77 event yang salah satunya adalah kebo-keboan ini hingga dapat membantu hingga memberikan dampak langsung pada masyarakat khususnya di Desa Alasmalang”.

“Adapun event seperti ini sudah ada banyak yang mengantri namun kita masih mau melihat kesiapan masyarakat menjadi hal utama. Ini dalam rangka mendorong kebudayaan mendapat impact dari kegiatan-kegiatan Banyuwangi Festival untuk bisa membawa impact besar buat pariwisata di Indonesia khususnya Banyuwangi,” tegas Abdullah Azwar Anas.

Event Kebo-keboan sendiri dimulai dari persiapan para peserta yang bertubuh tambun berdandan layaknya kerbau (kebo). Mereka memakai aksesoris lengkap dengan tanduk buatan dan lonceng di lehernya. Tidak hanya itu agar terlihat mirip kerbau. Mereka melumuri tubuhnya dengan cairan hitam yang terbuat dari minyak dan arang.

KEBO (1)

Sebelum pawai Kebo-keboan dimulai. para Sesepuh di desa Alasmalang mengelar upacara selamatan hingga pembacaan doa. Hal itu untuk meminta berkah keselamatan selama acara berlangsung. Tampak hadir Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid juga ikut dalam ritual budaya yang digelar pada penanggalan jawa 1-10 Muharam atau Suro.

Usai upacara selamatan, dimulailah arak-arakan kerbau manusia. Mereka diarak layaknya kerbau yang sedang membajak sawah, lengkap dengan tali untuk mengikat kerbau. Para kerbau manusia didampingi petani dibelakangnya. Petani sendiri tidak bisa memaksa kemana Kebo-keboan itu berjalan. Hanya sebatas mengarahkan.

Mereka jalan kesegala arah untuk mencari kubangan lumpur. Menyeruduk warga yang melihat. Tak jarang penonton wanita yang menjadi sasarannya. Setelahnya, mereka mencempulungkan diri di kubangan yang dekat dengan balai desa.

Setelah kebo-keboan berkumpul di kubangan, munculah peran Dewi Sri (Simbol Kesuburan dan Kemakmuran) untuk menebar benih. Hal itu sebagai petanda bila pertanian segera dimulai dan para kerbau sibuk berebut benih yang dilemparkan Dewi Sri itu.

Kebo Keboan

“Ritual serta budaya menjadi satu kesatuan yang tak dipisahkan. Sehingga semua bisa menikmati. Banyuwangi memberi penghargaan kepada masyarakat melalui tradisi budaya, dengan dihormati. Hal itu yang membuat masyarakat akan berkembang dengan sendirinya,” tambah Anas.

Dikesempatan yang sama, Kepala Biro Komunikasi Publik Guntur Sakti juga mengatakan, Ritual Budaya Kebo-Keboan menjadi wisata atraktif yang mengeksplorasi seni budaya dab keindahan alam. Hingga potensi daerah yang bisa jadi pilihan menarik untuk wisatawan.

“Atraksi ini sebagai cara ampuh untuk meningkatkan awareness orang masyarakat Banyuwangi. Dan sudah terbukti, banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara menikmati aneka atraksi wisata di Banyuwangi. Direct impact-nya juga langsung terasa oleh masyarakat,” pungkas Guntur.