Home / Bisnis / Pariwisata Jadi Andalan dalam Mendukung Kebijakan Penguatan Cadangan Devisa
PITANA

Pariwisata Jadi Andalan dalam Mendukung Kebijakan Penguatan Cadangan Devisa

 PITANA

Pariwisata menjadi sektor andalan dalam mendukung strategi kebijakan penguatan cadangan devisa karena memiliki balance of payments atau neraca pembayaran yang selalu surplus.

Devisa yang diperoleh dari kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) atau inbound dengan uang yang dibelanjakan oleh wisatawan nasional (wisnas) yang berwisata ke luar negeri atau outbound menunjukan angka positif.

Hal menarik ini diutarakan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata (Kemenpar) I Gde Pitana mengatakan, data balance of payment pariwisata berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) maupun Bank Indonesia (BI) dalam empat tahun terakhir menunjukkan surplus.

Hal ini dikarenakan antara ekspor (berupa pendapatan devisa dari kedatangan wisman ke Indonesia) dibandingkan impor (berupa pengeluran wisnas di luar negeri) menunjukkan angka positif.

”Sektor pariwisata dalam menghasilkan devisa perlu mempersiapkan produk wisata yang menarik serta melakukan promosi yang gencar yang membutuhkan waktu sekitar enam bulan,” kata I Gde Pitana menjawab pertanyaan wartawan dalam acara media gathering mancanegara yang mengangkat tema ’Kebijakan Strategi Pemasaran Pariwisata di Dalam Negeri dan Pasar Asia Tenggara dan Oceania serta Dukungan Kemenpar untuk Asian Games 2018’ di Jakarta.

I Gde Pitana kembali menjelaskan, trend perolehan devisa pariwisata yang terus meningkat dalam empat tahun belakangan ini seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisman ke Indonesia yang pada tahun 2017 lalu sebanyak 14,01 juta wisman. Pada tahun ini, ditargetkan sebanyak 17 juta wisman dan meningkat menjadi 20 juta wisman dengan perolehan devisa sebesar Rp 280 triliun pada tahun depan.

Data balance of payment pariwisata yang dikeluarkan BI pada 2016 menunjukkan surplus sebesar US$ 3,688 miliar. Nilai ekspor sebesar US$ 11,238 miliar, sedangkan nilai impor sebesar US$ 7,549 miliar.

Seperti diketahui dalam rapat terbatas (Ratas) baru-baru ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) menagih strategi kebijakan penguatan cadangan devisa yang telah dijalankan oleh jajarannya dalam memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Penguatan cadangan devisa Indonesia sangat penting bagi ketahanan ekonomi terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

“Sementara untuk menyukseskan Asian Games 2018 ada sebanyak 75 paket wisata yang ditawarkan dari 7 destinasi unggulan yaitu Jakarta, Banten dan Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jateng dan Yogyakarta, Banyuwangi, dan Bali. Paket wisata ini gencar dipromosikan ke mancanegara terutama pada event-event pariwisata di kawasan Asia,” kata I Gde Pitana.

Penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang diikuti 10.000 atlet dan 5.000 officials dari 45 negara yang akan berlaga dalam 462 pertandingan serta disaksikan sekitar 2 juta penonton. Kegiatan pesta olahraga terbesar dunia, setelah Olimpiade, ini diproyeksikan akan menarik kunjungan sebanyak 200.000 wisatawan mancanegara (wisman) dengan total pengeluaran dari peserta dan pengunjung mencapai Rp 3,6 triliun.

Kegiatan Asian Games 2018 memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia di antaranya meningkatkan sektor pariwisata, meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pengembangan kota melalui pembangunan infrastruktur fasilitas olahraga. [iST]