Home / Destinasi / Keunikan Kultural Anak Gimbal Dieng
Gimbal Dieng

Keunikan Kultural Anak Gimbal Dieng

Gimbal Dieng

Sebagai puncak acara yang selalu ditunggu para wisatawan pada Dieng Culture Festival adalah ritual budaya pemotongan rambut anak gimbal. Yang mana para anak gimbal ini konon dipercaya sebagai titisan Kyai Kolo Dete, leluhur Dieng yang hidup sejak abad ke-14.

Bertempat di pelataran kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara, pada hari terakhir Dieng Culture Festival 2018 yang digelar dari tanggal 3-5 Agustus 2018. Telah siap sebelas anak yang akan mengikuti jalannya ritual pemotongan rambut.

Kesebelas anak tersebut duduk rapih berjajar dengan mengunakan baju putih berpadukan kain batik berdominan warna hitam. Berhadapan langsung dengan ribuan wisatawan yang telah juga duduk rapih dan sambil mengatur posisi untuk tidak melewatkan moment ritual ini sedikit pun dengan kamera masing-masing.

Ritual pemotongan diawali oleh sesepuh atau pemangku adat, yaitu Mbah Sumarsono dan Mbah Sumanto, yang kemudian dilanjutkan oleh para pejabat daerah hingga dari kementerian pusat.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo selaku pejabat daerah dalam sambutannya berharap, “ritual yang penuh wujud fenomena dalam budaya ini, haruslah dihargai dan dilestarikan karena secara kultural, fenomena ini sangat menarik hingga tidak bisa dipahami namun biarkan jadi misteri,”

“Terlebih masing-masing anak ini memiliki permintaan tak biasa alias unik~ dan diberikan sewaktu prosesi pemotongan rambut gimbal selesai. Keunikan dari permintaan itulah, yang kadang tak bisa dipahami nalar orang dewasa”, tambah Ganjar.

Permintaan unik para anak-anak yang akan dipotong gimbal antara lain meliputi; Zalia Kiranya Zalia Widardo, 4 tahun, memiliki permintaan es krim rasa cokelat. Sedangkan anak kedua, Laela Handayani, 6 tahun, yang berasal dari Cikampek, Jawa Barat, meminta tablet untuk mainan bergambar apel.

Adapun anak ketiga, Nadhira Thafana Pramarsetyo, 4 tahun meminta ikan lele satu ekor. Anak keempat, Aulia Malihatunisa, 7 tahun, memiliki permohonan ponsel, sepeda, boneka, dan baju muslim.

Fitria Nur Rahmadzani, yakni anak kelima, 8 tahun, meminta sepeda, bakso, wortel, burung kenari, ayam, dan tempe gembus. Lain lagi dengan anak keenam, Mysha Kirana Saputra, 5 tahun, meminta tiga ekor entok dan sepatu roda.

Anak ketujuh, Salwa Khoirun Nisa, 7 tahun, meminta kerupuk rambak dan permen yupi masing-masing dua bungkus. Lantas anak kedelapan, Nibaul Khasanah, 6 tahun, meminta sepeda warna merah jambu dan sepatu sekolah lengkap dengan kaus kakinya.

Sedangkan anak kesembilan, yakni Elsa Fitriani, 9 tahun, meminta roti regal bermerek Mari sebanyak dua bungkus besar dan kambing jantan. Kemudian anak kesepuluh, Nurlela Herawati, 12 tahun, meminta kue bolu black forest. Anak kesebelas, alias anak terakhir, Puput Cahyaningsih, 7 tahun, meminta ponsel dan mercon.

Seusai upacara pemotongan, dilakukan kembul ngalap berkah. Penyelenggara ritual telah menyediakan beragam ingkung dan nasi uduk serta buah-buahan dan jajanan pasar untuk dinikmati para wisatawan atau pengunjung.